Rabu, 28 Agustus 2019

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA “PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA”


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
 “PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA



Oleh:
Hofidatul Maisaroh (170210103076)
Kelas/Kelompok: B/05



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I.                   JUDUL
PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA
II.                TUJUAN
1.      Mengamati kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
2.      Mengetahui bentuk kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
III.             TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu peneliti bernama Morgan memilih salah satu species yakni lalat buah Drosophila melanogaster serangga umum pemakan fungi yang tumbuh pada buah-buahan. Lalat buah dapat berkembang biak dengan mudah dan menghasilkan banyak anak bahkan mencapai ratusan dalam dua minggu. Lalat buah memiliki pasangan kromosom homolog X pada betina, sedangkan pada lalat jantan memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (Campbell, 2010).
Kromosom pada kelenjar ludah lalat buah Drosophila melanogaster disebut kromosom politen. Kromosom politen merupakan kromosom raksasa yang ukurannya lebih besar dari ukuran kromosom biasanya akibat peristiwa endoreduplikasi. Endoreduplikasi merupakan peristiwa penggandaan kromosom tanpa disertai pembelahan sel pada fase mitosis (Setyaningtyas, 2012).
Kromosom raksasa dapat diteemukan pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan pada usus. Dan bagian-bagian didalamnya terdiri dari kromonemata, kromosenter, band, dan interband. Kromonemata adalah istilah tahap awal pembentuka kromatid. Kromosenter yaitu tempat melekat dan berkumpulnya lengan-lengan kromosom. Band adalah pita gelap pada kromosom. Interband adalah pita terag pada kromosom (Aristya, 2015).
Struktur kromosom politen atau kromosom raksasa dibentuk dari pengulangan replikasi DNA tanpa pemisahan dari replikasi belaian kromatin. Dalam kromosom ini, daerah eukromatik akan digantikan oleh daerah heteromatik siring berjalannya proses perkembangan. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas gen yang aktif pada suatu tahap yang kemudian dinonaktifkan pada tahap perkembangan selanjutnya (Fried, 2008).
Kromosom dapat terlihat jelas dan baik yakni pada fase prometafase dan metafase. Karena pada fase tersebut kromosom berbentuk seperti bangunan silindroid berlengan empat dan dapat terrsusun lurus atau bengkok yang tersusun dari kromatin. Gabungan dari DNA, protein histon, dan RNA adalah bentuk kompleks dari kromatin (Aristya, 2015).
Kromatin dibagi menjadi dua daerah berdasarkan daya serap terhadap larutan pewarna, yaitu eukromatin dan heterokromatin. Kemampuan menyerap warna heterokromatin lebih tinggi daripada eukromatin. Saat memasuki fase mitosis, eukromatin akan menebal, sedangkan heterokromatin akan terlihat gelap karena mudah dalam menerap warna (Yuwono,2008).
Kromosom raksasa lalat buah dapat kita temukan ketika posisi hidupnya berada di fase larva instar 3. Ciri tubuh larva berwarna putih dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang, ukuran tubuh 3-5 mm, memiliki sungut deperti bulu, memiliki mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk,  thorax berbulu dengan warna dasar putih \serta abdomen bersegmen 5 (Oktary, 2015).
IV.             METODE PENGAMATAN
4.1  Alat dan Bahan
1.      Mikroskop cahaya
2.      Gelas arloji
3.      Objek glass
4.      Cover glass
5.      Pipet
6.      Larva Drosophilla melanogaster instar III
7.      Larutan NaCl  0,9 %
8.      Larutan FAA
9.      Acetocarmin
10.  Jarum pentul
4.2  PROSEDUR KERJA
a. Memelihara larva Drosophila melanogaster instar III
b. Meletakkan larva pada gelas arloji dan  memberi larutan NaCl 0,9%
c. Menentukan bagian kepala, ekor, dan leher larva
d. Meletakkan larva pada kaca benda dan mengamati di bawah mikroskop
e. Memisahkan bagian kepala dengan ekor dengan cara meletakkan jarum pentul pada bagian kepala dan leher dan menariknya hingga putus
f.
Mencari kelenjar ludah yang memiliki bentuk seperti ginjal dengan warna transparan
g. Memisahkan kelenjar ludah yang telah ditemukan dari lemak-lemak yang menempel
h.Menetesi kelenjar ludah yang ditemukan dengan FAA dua tetes  dan menunggu sampai warnanya berubah menjadi keruh
i. Membersihkan sisa FAA dengan cara mengisapnya dengan kertas isap dan menetesi dengan acetocarmin
j. Menutup preparat dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop
k. Mencari kromosom raksasa pada preparat yang sudah dibuat, dan menggambar lalu memberi keterangan
 
V.                HASIL PENGAMATAN
KELOMPOK
GAMBAR
KETERANGAN
1& 6
1
1.Kromosom raksasa kurang jelas
M = 4 x 10
2 & 5
-
Tidak ada kromosom
3 & 4
1
1.Kromosom raksasa
M = 40 x 10

VI.             PEMBAHASAN
Praktikum kali ini melakukan pengamatan kromosom raksasa pada kelenjar ludah lalat buah Drosophila melanogaster. Langkah pertama yang dilakukan ialah memilih larva instar 3 pada medium menggunakan jarum pentul kemudian  meletakkannnya di atas gelas arloji lalu meneteskan sedikit larutan NaCl 0,9%. Pemberian NaCl ini guna menambah kelincahan larva atau membuat larva menjadi lebih segar.
Langkah selanjutnya ialah menentukan bagian bagian tubuh larva, yakni bagian kepala, ekor dan lehernya. Setelah terlihat dengan jelas, kemudian memisahkan bagian kepala dan leher dengan cara meletakkan jarum pentul pada bagian kepala dan leher kemudian menariknya hingga putus dan meletakkan di kaca benda. Lalu, mencari kelenjar ludah yang memiliki bentukan seperti ginjal dengan warna transparan kemudian memisahkan dari lemak-lemak yang menempel.
Setelah bersih dari lemak-lemak, kelenjar ludah tadi langsung diberi larutan FAA agar sel-selnya tidak membelah ke fase selanjutnya. Setelah itu membersihkan sisa FAA dengan kertas isap atau tisu lalu  menetesi lagi dengan acetocarmin yang berfungsi memberi warna agar saat diamati dibawah mikroskop objek terlihat lebih jelas.
Langkah menuju akhir ialah menutup preparat dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop kemudian mencari kroosom raksasa pada preparat yang sudah dibuat. Setelah menemukan raksasa pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster kemudian menggambar dan memberi keterangan.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pengamatan diantaranya NaCl 0,9%, lautan FAA,  acetocarmin dan larva instar 3. Tujuan pemberian NaCl 0,9% pada larva ialah agar larva menjadi semakin gesit serta menjaga tubuh larva agar tidak kering. Larutan FAA berfungsi untuk menghentikan aktifitas pembelahan dan mempertahankan keadaan sel agar tidak membelah ke fase selanjutnya.
Larutan acetocarmin berfungsi untuk memberi warna pada kelenjar luda agar kromosom dapat teramati dengan mudah dan jelas. Penggunaan larva lalat instar 3 memiliki tujuan karena romosom raksasa hanya bisa ditemukan pada fase larva yaitu instar 3. Larva tersebut sudah memiliki organ pencernaan yang lengkap, seperti kelenjar ludah yang mengandung enzim, gen atau DNA sehingga dapat ditemukan kromosom politen didalamnya.
Kromosom raksasa atau giant kromosom merupakan kromosom interfase yang berukuran lebih besar dan panjang dari kromosom metafase sehibgga kromosom ini dapat dilihat (pada  fase interfase) dimana pada kondisi ini semua kromosom lain tidak dapat terlihat.
Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis yang  merupakan  hasil dari penggandaan kromosom berulang kali tanpa diikuti pembelahan sel. Sehingga kromosom mengandung DNA yang bertumpukan secara paralel. Duplikat-duplikat homolog ini terletak berdampingan secara sempurna, sehingga menghasilkan bentukan menyerupai kabel yang berserabut banyak.
Kromosom raksasa pada Drosophila melanogaster terletak pada kelenjar ludah, dimana setiap kromosom raksasa ini merupakan hasil dari sembilan siklus replikasi. Bentuknya menyerupai kromosom raksasa dalam jaringan lainnya akan tetapi memiliki lokasi gembungan yang berbeda.
Berdasarkan pengamatan dalam satu kelas yang terdiri dari 6 kelompok yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok besar saja, kromosom raksasa hanya teramati pada gabungan kelompok 1 dan 6 serta 3 dan 4. Hasil pengamatan kelomok 1 dan 6 ialah kromosom raksasa teramati, akan tetapi tidak terlihat jelas. Sedangkan hasil pengamatan kelompok 3 dan 4, kromosom terlihat dengan jelas bahkan pita gelap terangnya terlihat sangat jelas.
Kelompok 2 dan 5 tidak menemukan kromosom raksasa saat pengamatan, kemungkinan yang terjadi ialah kesalahan praktikan saat memotong bagian-bagian tubuh larva yang menyebabkan kelenjar ludah tidak terpotong ataupun organnya rusak karena pengambilan yang kurang hati-hati.
Berdasarkan literatur, kromosom raksasa dapat ditemukan pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan pada usus. Akan tetapi kebanyakan ditemukan pada kelenjar ludah. Giant kromosom biasanya ada pada beberapa jaringan larva dan pada serangga ordo diptera dan beberapa species dari protozoa dan plantae.

VII.          KESIMPULAN
Kromosom raksasa merupakan hasil dari replikasi DNA yang berulang tanpa diikuti pembelahan sel. Kromosom raksasa atau giant chromosome dapat ditemukan pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster khususnya pada larva instar 3. Karena pada fase ini organ pencernaan khususnya kelenjar ludah sudah terbentuk.
Bentuk kromosom raksasa tentunya lebih besar dan panjang dibanding kromosom lainnya.




DAFTAR PUSTAKA
Aristya, G. R.; B. S. Daryono; N. S. S. Handayani; & T. Arisuriyanti. 2015. Karakterisasi kromosom tumbuhan dan hewan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Campbell, N.A. 2010. BIOLOGI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Fried, G.H. & G. J. Hademenos. 2009. Schaum`s Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Oktary, A. P.; M. Ridwan & Armi. 2015. Ekstrak Daun Kirinyuh (Eupatorium odoratum) dan Lalat Buah (Drosophila melanogaster). Jurnal Serambi Akademika. Vol. 3(2): 330-340.
Setyaningtyas, W.; Haniyya, I; Sobari, K. S.; Juarna, N.; R. Nuruliawati; M. Fauzi & S. Purnadanti. 2012. Pengamatan Kromosom Politen (Kromosom raksasa) Drosophila melanogaster. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol. 2(1): 12-22.
Yuwono, T. 2009. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Contact me if You need spmething else. My Address email is mhofidatul@gmail.com

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA “POLIPLOIDI PADA PTERIDOPHYTA”


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
 “POLIPLOIDI PADA PTERIDOPHYTA




Oleh :
Hofidatul Maisaroh (170210103076)
Kelas/Kelompok: B/05






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018


I.     JUDUL
POLIPLOIDI PADA PTERIDOPHYTA
II.  TUJUAN
Untuk mengetahui tipe ploidi pada pteridophyta dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi tipe ploidi tersebut.
III.   DASAR TEORI
Poliploidi merupakan peristiwa penggandaan kromosom sehingga memiliki dua genom atau sel dalam sel tubuhnya. Terbentuknya individu poliploidi dapat terjadi karena adanya penghalang terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga menyebabkan sel tidak dapat membelah (As`adah, 2016).
Poliploidi pada tanaman tingkat tinggi dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah kromosom. Kromosom dapat diduplikasi melalui mutasi. Umumnya jumlah kromosom pada tanaman ialah diploid, namun ada juga yang haploid, triploid, maupun tetraploid. Poliploidi memiliki peranan penting dalam menghasilkan keragaman genetik dan fenotipe serta evolusi tanaman (Saraswati, 2017).
Berdasarkan sumber asal kromosom, poliploidi dapat dibedakan menjadi dua yaitu autopoliploidi dan allopoliploidi. Organisme yang menerima semua kromosom dari species yang sama disebut autopoliploidi. Organisme yang menerima kromosom dari species atau genus yang berbeda dinamakan allopoliploidi. (Aristya, 2015).
Poliploidi dapat dilakukan dengan bebeapa cara khususnya pada tetraploidi. Organisme tetraploidi dapat dihasilkan melalui mekanisme yang paling sederhana, yaitu kegagalan memisahnya kromosom pada individu diploid selama mitosis sehingga terjadi penggandaan jumlah genom dari 2n menjadi 4n  dan seterusnya (Susanto, 2011).
Selain itu, mutasi pada poliploidi dapat disebabkan oleh mutagen kimia yang menghambat pembentukan benang-benang spindel sehingga menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian. Pemberian kolkisin misal, pemberian zat ini dapat menyebabkan penurunan presentase jumlah tanaman tumbuh (Fadilla, 2018).
IV.   METODE
4.1   Alat dan Bahan
a.      Alat
·      Botol
·      Kaca benda
·      Kaca penutup
·      Saringan
·      Pinset, silet
·      Water bath
·      Vial pipet tetes
·      Mikroskop dengan perbesaran 100 X 10
·      Hand counter
·      Polybag altimeter
·      Stereofoam
b.      Bahan
·      Larutan FAA yang berfungsi untuk mempertahankan kondisi sel sehingga sel tidak melakukan fase pembelahan selanjutnya.
·      HCl 1N yang berfungsi untuk melisiskan dinding sel tudung akar.
·      Acetocarmin yang berfungsi untuk memberikan pewarnaan sehingga kromosom dapat diamati.
·      Kertas hisap digunakan untuk menghisap larutan HCl dari preparat sebelum ditetesi Acetocarmin.
·      Balsem kanada digunakan untuk mengawetkan preparat.
·      Tudung akar; P. vittata, P. biaurita, P. ensiformis.
4.2   Cara Kerja (skematis)
     
a. Mencari P.vittata, P.biaurita, P.ensiformis pada 3 daerah dengan 3 ketinggian yang berbeda (dataran rendah, sedang dan tinggi).
b. Mengambil potongan tudung akar dari botol ampul dengan pinset dan mencuci dengan air sebanyak 8x
c. Memasukkan tudung akar ke dalam botol ampul yang terisi dengan HCl 1 N
d. Memotong tudung akar sepanjang 1 cm. dan memasukkan potongan tudung akar ke dalam ampul yang berisi larutan FAA
e. Menentukan 3 lokasi daerah dengan 3 ketinggian yang berbeda
  
f. Menset waterbat dengan suhu 60áµ’C, menyalakan waterbat dan menunggu samapi lampu merah yang menyala mati
g. Memasang botol ampul pada stereofoam yang telah dilubangi dan memasukkan ke dalam waterbat yang diisi air secukupnya

  
h. Mendiamkan selama 15 menit, kemudian mengeluarkan botol ampul dan potongan akar dikeluarkan menggunakan pinset dan meletakkan pada kaca benda
 
i. Memotong tudung akar dengan silet, meneteskan acetocarmin, menutup dengan kaca benda lalu menekan kaca penutup dengan ibu jari
j. Mengamati preparat di mikroskop dengan menggunakan perbesaran 1000x
k. Menghitung jumlah kromosom yang terlihat pada sel yang mengalami metaphase atau anaphase dengan menggunakan hand counter
l. Melakukan pengumpulan data dan melakukan analisis data untuk mengetahui ploidi padamasing-masing tumbuhan untuk setiap ketinggian dan melakukan analisis secara statistic untuk mengetahui perbedaannya
m. Perhitungan dilakukan dengan mengamati 5 sel untuk setiap preparat dilakukan sebanyak 3x
  
V.   HASIL PENGAMATAN
No.
Jenis Pteris
Daratan
Jumlah Kromosom Sel ke-
1
2
3
4
5
1.
P. vittata
Tinggi
0
-
-
-
-
P. biaurita
Rendah
4
-
-
-
-
2.
P. vittata
Sedang
0
-
-
-
-
P. biaurita
Tinggi
2
-
-
-
-
3.
P. vittata
Rendah
1
-
-
-
-
P. biaurita
Sedang
0
-
-
-
-
4.
P. vittata
Tinggi
0
-
-
-
-
P. ensiformis
Rendah
0
-
-
-
-
5.
P. vittata
Sedang
0
-
-
-
-
P. ensiformis
Tinggi
0
-
-
-
-
6.
P. vittata
Rendah
0
-
-
-
-
P. ensiformis
Sedang
4
-
-
-
-


Keterangan Tambahan:
No.
Gambar
Keterangan
1.
Kel. 1 P. biaurita, dataran rendah.
Jumlah kromosom 4, fase profase.
2.
Kel. 2 P. biaurita, dataran tinggi.
Jumlah kromosom 2, fase telofase 2.

3.
Kel. 5 P. ensiformis, dataran tinggi.
Jumlah kromosom tidak terlihat, sel mengalami pembelahan telofase.
4.
Kel 3 P. vittata, dataran rendah.
Jumlah kromosom 1, fase telofase.
5.
Kel 6 P. ensiformis, dataran rendah.
Jumlah kromosom 4, fase metafase 3, telofase 1.

VI.   PEMBAHASAN
                 Perubahan jumlah kromosom dibedakan menjadi dua yaitu euploidi dan aneuploidi. Euploidi adalah keadaan dimana jumlah kromosom yang dimiliki oleh suatu mahluk hidup merupakan kelipatan dari kromosom dasarnya (haploidnya). Euploid lebih sering ditemukan pada tumbuhan karena umumnya tumbuhan tidak mengenal adanya kromosom kelamin. Euploidi ini dibedakan menjadi 3 yaitu monoploid, diloid, dan poliploidi.
                 Individu poliploidi merupakan individu yang memiliki lebih dari dua genom dalam sel tubuhnya, misalnya triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n) dan seterusnya. Individu dalam satu genus maupun satu species seringkali memiiki jumlah kromosom yang berbeda. Dengan adanya perbedaan jumlah kromosom dalam satu species dapat meningkatkan diversity dalam ekosistem.
                 Berdasarkan sumber asal kromosom, poliploidi dapat dibedakan menjadi dua yaitu autopoliploid dan allopoliploid. Autopoliploid merupakan organisme yang menerima semua kromosom dari species yang sama. Sedangkan allopoliploid berarti organisme yang menerima kromosom dari species atau genus yang berbeda.
                 Mekanisme terjadinya poliploidi ialah ketika suatu kromosom mengalami penggandaan secara tidak beraturan, sel reproduksi mengalami reduksi secara tidak beraturan maupun hal lain menyebabkan kromosom gagal membelah atau berpisah khususnya pada proses anafase. Kromosom yang gagal membelah atau tidak memisah menyebabkan jumlah kromosom ganda (bisa dua kali jumlah kromosom normal). Terjadilah poliploidi.
                 Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya poliploidi antara lain,  penyimpangan pada meiosis, penggunaan bahan kimia (misalnya penggunaan kolkisin), sel somatik mengalami penggandaan secara tidak beraturan,  serta sel reproduksi yang mengalami reduksi tidak beraturan.
                 Keuntungan dari poliploidi pada tanaman secara struktur anatomis mempunyai inti sel lebih besar, berkas pembuluh erdiameter lebih besar, ukuran stomata lebh besar dan tanaman lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Misalnya tahan terhadap serangan patogen, kekeringan, serta hasil produksinya lebih tinggi. Jika dilihat dari struktur morfologi, tanaman poliploidi memiliki ukuran bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, dan buah yang lebih besar. Sel-sel juga lebih besar dan tampak jelas pada epidermis.
                 Keuntungan yang lebih umum ialah, dengan adanya poliploidi keragaman mahluk hidup akan semakin meningkat.
                 Adapun kerugian poliploidi khususnya pada tanaman ialah terjadinya kemandulan atau kesterilan misal pada semangka triploid yang tidak memiliki biji normal atau terdegenerasi. Pada hewan vertebrata dapat menyebabkan kematian pralahir.
                 Poliploidi umumnya terjadi pada tumbuhan, khususnya pada tumbuhan tingkat tinggi. Oleh karena itu, praktikum kali ini menggunakan pteridophyta dari 3 tempat yang berbeda yaitu dataran tinggi, sedang, dan rendah. Alasan yang mendasar ialah poliploidi salah satunya disebabkan oleh faktor lingkungan, misal pengaruh suhu  terhadap jumlah kromosom. Daerah dataran tinggi dengan suhu yang rendah, tumbuhan paku cenderung memiliki ploidi yang besar biasanya bersifat tetraploid. Sedangkan pada dataran rendah cenderung bersifat diploid.
                 Hasil pengamatan praktikum kali ini ialah sebagai berikut:
                 Kelompok 1 mengamati P.vittata dataran tinggi dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.biaurita dataran rendah dengan jumlah 4 kromosom pada fase profase.
                 Kelompok 2 mengamati P.vittata dataran sedang dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.biaurita dataran tinggi dengan jumlah 2 kromosom pada fase telofase 2.
                 Kelompok 3 mengamati P.vittata dataran rendah dengan jumlah 1 kromosom pada fase telofase dan P.biaurita dataran sedang dimana tidak ditemukan kromosom selnya.
                 Kelompok 4 mengamati P.vittata dataran tinggi dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis dataran rendah juga tidak ditemukan kromosom selnya.
                 Kelompok 5 mengamati P.vittata dataran sedang dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis dataran tinggi yang juga tidak ditemukan kromosomnya. Hal ini disebabkan karena sel mengalami pembelahan telofase.
                 Kelompok 6 mengamati P.vittata dataran rendah dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis dataran sedang dengan 4 kromosom, masing-masing terdapat 3 kromosom fase metafase dan 1 pada fase telofase.
                 Kegagalan pada praktikum ini bisa jadi disebabkan oleh praktikan yang terlalu lambat untuk memberi larutan FAA sehingga sel kromosom membelah pada proses selanjutnya sehingga kromosomnya tak terlihat. Mungkin juga disebabkan oleh pemberian HCl yang terlalu lama sehingga sel menjadi rusak dan kromosom tak terlihat.
                 Dari ketiga pteris yang kita amati struktur anatominya, kita belum bisa menentukan pteris mana yang cenderung memiliki poliploidi yang paling besar, sedang maupun rendah karena faktor human error seperti yang dijelaskan diatas. Menurut Setyowati, pteris yang memiliki ploidi yang besar ialah pteris yang berada di dataran tinggi dimana suhunya cenderung rendah sehingga tipe sitologi yang ditemukan tetraploid. Sedangkan, di dataran rendah dengan suhu yang tinggi cenderung bersifat diploid.

VII.          PENUTUP
                 Tipe ploidi pterydophyta pada dataran tinggi cenderung bersifat tetraploid berdasarkan rendahnya suhu di daerah tersebut. Sedangkan pada dataran rendah, tipe ploidi yang dimiliki pteris cenderung bersifat diploid. Adapun faktor yang menyebabkan poliploidi antara lain karena pemberian mutagen kimia, penggandaan somatik, sel reproduksi yang mengalami reduksi, maupun karena faktor lingkungan.               
                  
                
                  
  


DAFTAR PUSTAKA
Aristya, G. R., Daryono, B. S., Handayani, N. S. N., Arisuryanti, T. 2015. KARAKTERISASI KROMOSOM TUMBUHAN DAN HEWAN. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
As`adah, M., T. Rahayu, A. Hayati. 2016. Metode Pemberian Kolkisin Terhadap Respon Morfologis Tanaman Zaitun (Olea Europaeae L.). Jurnal Ilmiah Biosaintropis. Vol. 2(1): 46-52.
Fadilla, Z. N. & Respatijarti. 2018. INDUKSI POLIPLOIDI PADA BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DENGAN PEMBERIAN KOLKISIN. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 6(5): 783-790.
Saraswati, D. R., T. Rahayu, A. Hayati. 2017. Kajian Pemberian Kolkisin dengan Metode Tetes Terhadap Profil Poliploidi Tanaman Zaitun (Olea Europaeae L.). Jurnal Ilmiah Biosaintropis. Vol. 2(2): 24-29.
Susanto, A. H. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 Kalau butuh sesuatu/ gambar silahkan kirim email melalui link dibawah. Terimakasih