Rabu, 28 Agustus 2019

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA “PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA”


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
 “PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA



Oleh:
Hofidatul Maisaroh (170210103076)
Kelas/Kelompok: B/05



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I.                   JUDUL
PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA
II.                TUJUAN
1.      Mengamati kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
2.      Mengetahui bentuk kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
III.             TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu peneliti bernama Morgan memilih salah satu species yakni lalat buah Drosophila melanogaster serangga umum pemakan fungi yang tumbuh pada buah-buahan. Lalat buah dapat berkembang biak dengan mudah dan menghasilkan banyak anak bahkan mencapai ratusan dalam dua minggu. Lalat buah memiliki pasangan kromosom homolog X pada betina, sedangkan pada lalat jantan memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (Campbell, 2010).
Kromosom pada kelenjar ludah lalat buah Drosophila melanogaster disebut kromosom politen. Kromosom politen merupakan kromosom raksasa yang ukurannya lebih besar dari ukuran kromosom biasanya akibat peristiwa endoreduplikasi. Endoreduplikasi merupakan peristiwa penggandaan kromosom tanpa disertai pembelahan sel pada fase mitosis (Setyaningtyas, 2012).
Kromosom raksasa dapat diteemukan pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan pada usus. Dan bagian-bagian didalamnya terdiri dari kromonemata, kromosenter, band, dan interband. Kromonemata adalah istilah tahap awal pembentuka kromatid. Kromosenter yaitu tempat melekat dan berkumpulnya lengan-lengan kromosom. Band adalah pita gelap pada kromosom. Interband adalah pita terag pada kromosom (Aristya, 2015).
Struktur kromosom politen atau kromosom raksasa dibentuk dari pengulangan replikasi DNA tanpa pemisahan dari replikasi belaian kromatin. Dalam kromosom ini, daerah eukromatik akan digantikan oleh daerah heteromatik siring berjalannya proses perkembangan. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas gen yang aktif pada suatu tahap yang kemudian dinonaktifkan pada tahap perkembangan selanjutnya (Fried, 2008).
Kromosom dapat terlihat jelas dan baik yakni pada fase prometafase dan metafase. Karena pada fase tersebut kromosom berbentuk seperti bangunan silindroid berlengan empat dan dapat terrsusun lurus atau bengkok yang tersusun dari kromatin. Gabungan dari DNA, protein histon, dan RNA adalah bentuk kompleks dari kromatin (Aristya, 2015).
Kromatin dibagi menjadi dua daerah berdasarkan daya serap terhadap larutan pewarna, yaitu eukromatin dan heterokromatin. Kemampuan menyerap warna heterokromatin lebih tinggi daripada eukromatin. Saat memasuki fase mitosis, eukromatin akan menebal, sedangkan heterokromatin akan terlihat gelap karena mudah dalam menerap warna (Yuwono,2008).
Kromosom raksasa lalat buah dapat kita temukan ketika posisi hidupnya berada di fase larva instar 3. Ciri tubuh larva berwarna putih dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang, ukuran tubuh 3-5 mm, memiliki sungut deperti bulu, memiliki mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk,  thorax berbulu dengan warna dasar putih \serta abdomen bersegmen 5 (Oktary, 2015).
IV.             METODE PENGAMATAN
4.1  Alat dan Bahan
1.      Mikroskop cahaya
2.      Gelas arloji
3.      Objek glass
4.      Cover glass
5.      Pipet
6.      Larva Drosophilla melanogaster instar III
7.      Larutan NaCl  0,9 %
8.      Larutan FAA
9.      Acetocarmin
10.  Jarum pentul
4.2  PROSEDUR KERJA
a. Memelihara larva Drosophila melanogaster instar III
b. Meletakkan larva pada gelas arloji dan  memberi larutan NaCl 0,9%
c. Menentukan bagian kepala, ekor, dan leher larva
d. Meletakkan larva pada kaca benda dan mengamati di bawah mikroskop
e. Memisahkan bagian kepala dengan ekor dengan cara meletakkan jarum pentul pada bagian kepala dan leher dan menariknya hingga putus
f.
Mencari kelenjar ludah yang memiliki bentuk seperti ginjal dengan warna transparan
g. Memisahkan kelenjar ludah yang telah ditemukan dari lemak-lemak yang menempel
h.Menetesi kelenjar ludah yang ditemukan dengan FAA dua tetes  dan menunggu sampai warnanya berubah menjadi keruh
i. Membersihkan sisa FAA dengan cara mengisapnya dengan kertas isap dan menetesi dengan acetocarmin
j. Menutup preparat dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop
k. Mencari kromosom raksasa pada preparat yang sudah dibuat, dan menggambar lalu memberi keterangan
 
V.                HASIL PENGAMATAN
KELOMPOK
GAMBAR
KETERANGAN
1& 6
1
1.Kromosom raksasa kurang jelas
M = 4 x 10
2 & 5
-
Tidak ada kromosom
3 & 4
1
1.Kromosom raksasa
M = 40 x 10

VI.             PEMBAHASAN
Praktikum kali ini melakukan pengamatan kromosom raksasa pada kelenjar ludah lalat buah Drosophila melanogaster. Langkah pertama yang dilakukan ialah memilih larva instar 3 pada medium menggunakan jarum pentul kemudian  meletakkannnya di atas gelas arloji lalu meneteskan sedikit larutan NaCl 0,9%. Pemberian NaCl ini guna menambah kelincahan larva atau membuat larva menjadi lebih segar.
Langkah selanjutnya ialah menentukan bagian bagian tubuh larva, yakni bagian kepala, ekor dan lehernya. Setelah terlihat dengan jelas, kemudian memisahkan bagian kepala dan leher dengan cara meletakkan jarum pentul pada bagian kepala dan leher kemudian menariknya hingga putus dan meletakkan di kaca benda. Lalu, mencari kelenjar ludah yang memiliki bentukan seperti ginjal dengan warna transparan kemudian memisahkan dari lemak-lemak yang menempel.
Setelah bersih dari lemak-lemak, kelenjar ludah tadi langsung diberi larutan FAA agar sel-selnya tidak membelah ke fase selanjutnya. Setelah itu membersihkan sisa FAA dengan kertas isap atau tisu lalu  menetesi lagi dengan acetocarmin yang berfungsi memberi warna agar saat diamati dibawah mikroskop objek terlihat lebih jelas.
Langkah menuju akhir ialah menutup preparat dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop kemudian mencari kroosom raksasa pada preparat yang sudah dibuat. Setelah menemukan raksasa pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster kemudian menggambar dan memberi keterangan.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pengamatan diantaranya NaCl 0,9%, lautan FAA,  acetocarmin dan larva instar 3. Tujuan pemberian NaCl 0,9% pada larva ialah agar larva menjadi semakin gesit serta menjaga tubuh larva agar tidak kering. Larutan FAA berfungsi untuk menghentikan aktifitas pembelahan dan mempertahankan keadaan sel agar tidak membelah ke fase selanjutnya.
Larutan acetocarmin berfungsi untuk memberi warna pada kelenjar luda agar kromosom dapat teramati dengan mudah dan jelas. Penggunaan larva lalat instar 3 memiliki tujuan karena romosom raksasa hanya bisa ditemukan pada fase larva yaitu instar 3. Larva tersebut sudah memiliki organ pencernaan yang lengkap, seperti kelenjar ludah yang mengandung enzim, gen atau DNA sehingga dapat ditemukan kromosom politen didalamnya.
Kromosom raksasa atau giant kromosom merupakan kromosom interfase yang berukuran lebih besar dan panjang dari kromosom metafase sehibgga kromosom ini dapat dilihat (pada  fase interfase) dimana pada kondisi ini semua kromosom lain tidak dapat terlihat.
Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis yang  merupakan  hasil dari penggandaan kromosom berulang kali tanpa diikuti pembelahan sel. Sehingga kromosom mengandung DNA yang bertumpukan secara paralel. Duplikat-duplikat homolog ini terletak berdampingan secara sempurna, sehingga menghasilkan bentukan menyerupai kabel yang berserabut banyak.
Kromosom raksasa pada Drosophila melanogaster terletak pada kelenjar ludah, dimana setiap kromosom raksasa ini merupakan hasil dari sembilan siklus replikasi. Bentuknya menyerupai kromosom raksasa dalam jaringan lainnya akan tetapi memiliki lokasi gembungan yang berbeda.
Berdasarkan pengamatan dalam satu kelas yang terdiri dari 6 kelompok yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok besar saja, kromosom raksasa hanya teramati pada gabungan kelompok 1 dan 6 serta 3 dan 4. Hasil pengamatan kelomok 1 dan 6 ialah kromosom raksasa teramati, akan tetapi tidak terlihat jelas. Sedangkan hasil pengamatan kelompok 3 dan 4, kromosom terlihat dengan jelas bahkan pita gelap terangnya terlihat sangat jelas.
Kelompok 2 dan 5 tidak menemukan kromosom raksasa saat pengamatan, kemungkinan yang terjadi ialah kesalahan praktikan saat memotong bagian-bagian tubuh larva yang menyebabkan kelenjar ludah tidak terpotong ataupun organnya rusak karena pengambilan yang kurang hati-hati.
Berdasarkan literatur, kromosom raksasa dapat ditemukan pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan pada usus. Akan tetapi kebanyakan ditemukan pada kelenjar ludah. Giant kromosom biasanya ada pada beberapa jaringan larva dan pada serangga ordo diptera dan beberapa species dari protozoa dan plantae.

VII.          KESIMPULAN
Kromosom raksasa merupakan hasil dari replikasi DNA yang berulang tanpa diikuti pembelahan sel. Kromosom raksasa atau giant chromosome dapat ditemukan pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster khususnya pada larva instar 3. Karena pada fase ini organ pencernaan khususnya kelenjar ludah sudah terbentuk.
Bentuk kromosom raksasa tentunya lebih besar dan panjang dibanding kromosom lainnya.




DAFTAR PUSTAKA
Aristya, G. R.; B. S. Daryono; N. S. S. Handayani; & T. Arisuriyanti. 2015. Karakterisasi kromosom tumbuhan dan hewan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Campbell, N.A. 2010. BIOLOGI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Fried, G.H. & G. J. Hademenos. 2009. Schaum`s Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Oktary, A. P.; M. Ridwan & Armi. 2015. Ekstrak Daun Kirinyuh (Eupatorium odoratum) dan Lalat Buah (Drosophila melanogaster). Jurnal Serambi Akademika. Vol. 3(2): 330-340.
Setyaningtyas, W.; Haniyya, I; Sobari, K. S.; Juarna, N.; R. Nuruliawati; M. Fauzi & S. Purnadanti. 2012. Pengamatan Kromosom Politen (Kromosom raksasa) Drosophila melanogaster. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol. 2(1): 12-22.
Yuwono, T. 2009. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Contact me if You need spmething else. My Address email is mhofidatul@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar