LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
“PENGAMATAN KROMOSOM RAKSASA”
Oleh:
Hofidatul Maisaroh (170210103076)
Kelas/Kelompok: B/05
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I.
JUDUL
PENGAMATAN KROMOSOM
RAKSASA
II.
TUJUAN
1. Mengamati kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
2. Mengetahui bentuk kromosom raksasa pada lalat buah (Drosophilla melanogaster)
III.
TINJAUAN
PUSTAKA
Salah satu peneliti bernama
Morgan memilih salah satu species yakni lalat buah Drosophila melanogaster
serangga umum pemakan fungi yang tumbuh pada buah-buahan. Lalat buah dapat
berkembang biak dengan mudah dan menghasilkan banyak anak bahkan mencapai
ratusan dalam dua minggu. Lalat buah memiliki pasangan kromosom homolog X pada
betina, sedangkan pada lalat jantan memiliki satu kromosom X dan satu kromosom
Y (Campbell, 2010).
Kromosom pada kelenjar ludah
lalat buah Drosophila melanogaster disebut kromosom politen. Kromosom politen
merupakan kromosom raksasa yang ukurannya lebih besar dari ukuran kromosom
biasanya akibat peristiwa endoreduplikasi. Endoreduplikasi merupakan peristiwa
penggandaan kromosom tanpa disertai pembelahan sel pada fase mitosis
(Setyaningtyas, 2012).
Kromosom raksasa dapat
diteemukan pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan
pada usus. Dan bagian-bagian didalamnya terdiri dari kromonemata, kromosenter,
band, dan interband. Kromonemata adalah istilah tahap awal pembentuka kromatid.
Kromosenter yaitu tempat melekat dan berkumpulnya lengan-lengan kromosom. Band
adalah pita gelap pada kromosom. Interband adalah pita terag pada kromosom
(Aristya, 2015).
Struktur kromosom politen atau
kromosom raksasa dibentuk dari pengulangan replikasi DNA tanpa pemisahan dari
replikasi belaian kromatin. Dalam kromosom ini, daerah eukromatik akan
digantikan oleh daerah heteromatik siring berjalannya proses perkembangan. Hal
tersebut menunjukkan adanya aktivitas gen yang aktif pada suatu tahap yang
kemudian dinonaktifkan pada tahap perkembangan selanjutnya (Fried, 2008).
Kromosom dapat terlihat jelas
dan baik yakni pada fase prometafase dan metafase. Karena pada fase tersebut
kromosom berbentuk seperti bangunan silindroid berlengan empat dan dapat terrsusun
lurus atau bengkok yang tersusun dari kromatin. Gabungan dari DNA, protein
histon, dan RNA adalah bentuk kompleks dari kromatin (Aristya, 2015).
Kromatin dibagi menjadi dua
daerah berdasarkan daya serap terhadap larutan pewarna, yaitu eukromatin dan
heterokromatin. Kemampuan menyerap warna heterokromatin lebih tinggi daripada
eukromatin. Saat memasuki fase mitosis, eukromatin akan menebal, sedangkan
heterokromatin akan terlihat gelap karena mudah dalam menerap warna
(Yuwono,2008).
Kromosom raksasa lalat buah
dapat kita temukan ketika posisi hidupnya berada di fase larva instar 3. Ciri
tubuh larva berwarna putih dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian
belakang, ukuran tubuh 3-5 mm, memiliki sungut deperti bulu, memiliki mata
oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata
majemuk, thorax berbulu dengan warna
dasar putih \serta abdomen bersegmen 5 (Oktary, 2015).
IV.
METODE
PENGAMATAN
4.1 Alat dan Bahan
1. Mikroskop cahaya
2. Gelas arloji
3. Objek glass
4. Cover glass
5. Pipet
6. Larva Drosophilla
melanogaster instar III
7. Larutan NaCl 0,9 %
8. Larutan FAA
9. Acetocarmin
10. Jarum pentul
4.2
PROSEDUR
KERJA
|
a. Memelihara larva Drosophila
melanogaster instar III
|
|
b. Meletakkan larva pada gelas arloji dan memberi larutan NaCl 0,9%
|
|
c. Menentukan bagian kepala, ekor, dan leher larva
|
|
d. Meletakkan larva pada kaca benda dan mengamati di
bawah mikroskop
|
|
e. Memisahkan bagian kepala dengan ekor dengan cara
meletakkan jarum pentul pada bagian kepala dan leher dan menariknya hingga
putus
|
| f. |
Mencari kelenjar ludah yang memiliki bentuk seperti
ginjal dengan warna transparan
|
|
g. Memisahkan kelenjar ludah yang telah ditemukan dari
lemak-lemak yang menempel
|
|
h.Menetesi kelenjar ludah yang ditemukan dengan FAA dua
tetes dan menunggu sampai warnanya
berubah menjadi keruh
|
|
i. Membersihkan sisa FAA dengan cara mengisapnya dengan
kertas isap dan menetesi dengan acetocarmin
|
|
k. Mencari kromosom raksasa pada preparat yang sudah
dibuat, dan menggambar lalu memberi keterangan
|
V.
HASIL
PENGAMATAN
|
KELOMPOK
|
GAMBAR
|
KETERANGAN
|
|
|
1& 6
|
|
1.Kromosom raksasa kurang jelas
M = 4 x 10
|
|
|
2 & 5
|
-
|
Tidak ada kromosom
|
|
|
3 & 4
|
|
1.Kromosom raksasa
M = 40 x 10
|
VI.
PEMBAHASAN
Praktikum kali ini melakukan pengamatan kromosom raksasa
pada kelenjar ludah lalat buah Drosophila
melanogaster. Langkah pertama yang dilakukan ialah memilih larva instar 3
pada medium menggunakan jarum pentul kemudian
meletakkannnya di atas gelas arloji lalu meneteskan sedikit larutan NaCl
0,9%. Pemberian NaCl ini guna menambah kelincahan larva atau membuat larva
menjadi lebih segar.
Langkah selanjutnya ialah menentukan bagian bagian tubuh
larva, yakni bagian kepala, ekor dan lehernya. Setelah terlihat dengan jelas,
kemudian memisahkan bagian kepala dan leher dengan cara meletakkan jarum pentul
pada bagian kepala dan leher kemudian menariknya hingga putus dan meletakkan di
kaca benda. Lalu, mencari kelenjar ludah yang memiliki bentukan seperti ginjal
dengan warna transparan kemudian memisahkan dari lemak-lemak yang menempel.
Setelah bersih dari lemak-lemak, kelenjar ludah tadi
langsung diberi larutan FAA agar sel-selnya tidak membelah ke fase selanjutnya.
Setelah itu membersihkan sisa FAA dengan kertas isap atau tisu lalu menetesi lagi dengan acetocarmin yang
berfungsi memberi warna agar saat diamati dibawah mikroskop objek terlihat
lebih jelas.
Langkah menuju akhir ialah menutup preparat dengan kaca
penutup dan mengamati di bawah mikroskop kemudian mencari kroosom raksasa pada
preparat yang sudah dibuat. Setelah menemukan raksasa pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster kemudian
menggambar dan memberi keterangan.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pengamatan diantaranya
NaCl 0,9%, lautan FAA, acetocarmin dan
larva instar 3. Tujuan pemberian NaCl 0,9% pada larva ialah agar larva menjadi
semakin gesit serta menjaga tubuh larva agar tidak kering. Larutan FAA
berfungsi untuk menghentikan aktifitas pembelahan dan mempertahankan keadaan
sel agar tidak membelah ke fase selanjutnya.
Larutan acetocarmin berfungsi untuk memberi warna pada
kelenjar luda agar kromosom dapat teramati dengan mudah dan jelas. Penggunaan
larva lalat instar 3 memiliki tujuan karena romosom raksasa hanya bisa
ditemukan pada fase larva yaitu instar 3. Larva tersebut sudah memiliki organ
pencernaan yang lengkap, seperti kelenjar ludah yang mengandung enzim, gen atau
DNA sehingga dapat ditemukan kromosom politen didalamnya.
Kromosom raksasa atau giant kromosom merupakan kromosom
interfase yang berukuran lebih besar dan panjang dari kromosom metafase
sehibgga kromosom ini dapat dilihat (pada
fase interfase) dimana pada kondisi ini semua kromosom lain tidak dapat
terlihat.
Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis
yang merupakan hasil dari penggandaan kromosom berulang kali
tanpa diikuti pembelahan sel. Sehingga kromosom mengandung DNA yang bertumpukan
secara paralel. Duplikat-duplikat homolog ini terletak berdampingan secara
sempurna, sehingga menghasilkan bentukan menyerupai kabel yang berserabut
banyak.
Kromosom raksasa pada Drosophila
melanogaster terletak pada kelenjar ludah, dimana setiap kromosom raksasa
ini merupakan hasil dari sembilan siklus replikasi. Bentuknya menyerupai kromosom
raksasa dalam jaringan lainnya akan tetapi memiliki lokasi gembungan yang
berbeda.
Berdasarkan pengamatan dalam satu kelas yang terdiri dari
6 kelompok yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok besar saja, kromosom raksasa
hanya teramati pada gabungan kelompok 1 dan 6 serta 3 dan 4. Hasil pengamatan
kelomok 1 dan 6 ialah kromosom raksasa teramati, akan tetapi tidak terlihat
jelas. Sedangkan hasil pengamatan kelompok 3 dan 4, kromosom terlihat dengan
jelas bahkan pita gelap terangnya terlihat sangat jelas.
Kelompok 2 dan 5 tidak menemukan kromosom raksasa saat
pengamatan, kemungkinan yang terjadi ialah kesalahan praktikan saat memotong
bagian-bagian tubuh larva yang menyebabkan kelenjar ludah tidak terpotong
ataupun organnya rusak karena pengambilan yang kurang hati-hati.
Berdasarkan literatur, kromosom raksasa dapat ditemukan
pada sel tubulus malphigi, kelenjar ludah, lambung, dan jaringan pada usus.
Akan tetapi kebanyakan ditemukan pada kelenjar ludah. Giant kromosom biasanya
ada pada beberapa jaringan larva dan pada serangga ordo diptera dan beberapa
species dari protozoa dan plantae.
VII.
KESIMPULAN
Kromosom raksasa merupakan
hasil dari replikasi DNA yang berulang tanpa diikuti pembelahan sel. Kromosom
raksasa atau giant chromosome dapat
ditemukan pada kelenjar ludah Drosophila
melanogaster khususnya pada larva instar 3. Karena pada fase ini organ
pencernaan khususnya kelenjar ludah sudah terbentuk.
Bentuk kromosom raksasa
tentunya lebih besar dan panjang dibanding kromosom lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aristya, G. R.; B. S. Daryono; N. S. S. Handayani; &
T. Arisuriyanti. 2015. Karakterisasi
kromosom tumbuhan dan hewan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Campbell, N.A. 2010. BIOLOGI.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Fried, G.H. & G. J. Hademenos. 2009. Schaum`s Outlines Biologi Edisi Kedua.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Oktary, A. P.; M. Ridwan & Armi. 2015. Ekstrak Daun
Kirinyuh (Eupatorium odoratum) dan
Lalat Buah (Drosophila melanogaster).
Jurnal Serambi Akademika. Vol. 3(2):
330-340.
Setyaningtyas, W.; Haniyya, I; Sobari, K. S.; Juarna, N.;
R. Nuruliawati; M. Fauzi & S. Purnadanti. 2012. Pengamatan Kromosom Politen
(Kromosom raksasa) Drosophila
melanogaster. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol. 2(1): 12-22.
Yuwono, T. 2009. Biologi
Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Contact me if You need spmething else. My Address email is mhofidatul@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar