
LAPORAN
PRAKTIKUM
GENETIKA
“SIKLUS
HIDUP LALAT BUAH (Drosophila melanogaster)”
Oleh:
Nama :
Hofidatul Maisaroh
NIM :
170210103076
Program studi :
Pendidikan Biologi
Kelompok : 5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I.
JUDUL
SIKLUS HIDUP LALAT BUAH (Drosophila melanogaster)
II.
TUJUAN
2.1 Mengetahui
siklus hidup lalat buah
2.2 Mengetahui
cara merawat lalat buah
III.
DASAR
TEORI
Drosophila melanogaster
umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam
istilah atu dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental dan merupakan yang
paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi dan evolusi
sejarah kehidupan. Hewan ini dikenal
sebagai hewan mungil yang mudah dipelihara, mudah digunakan, dan generasinya
dapat berlangsung selama sebulan (Fried, 2006).
Lalat
buah merupakan hama yang dapat merusak tanaman. Fase hidup lalat buah dari
telur, larva (belatung), pupa dan akhirnya menjadi serangga dewasa (imago)
merupakan metamorfosis sempurna. Umur imago atau lalat buah dewasa berkisar
satu bulan (Oktary, 2015).
Ciri
dari lalat buah yakni ukurannya sekitar 3-4 mm, berwarna kecokelatan atau
kekuning-kuningan, dan memiliki bulu-bulu di dekat mulut. Hewan ini dapat
dijumpai di pertanaman rumah atau buah busuk maupun rumah yang memiliki
persediaan buah-buahan. Rumah yang memiliki banyak buah termasuk faktor biotik
yang mempengaruhi populasi lalat itu sendiri (Susanto, 2017).
Drosophilla melanogaster
menjadi subjek pilihan dalam berbagai macam penelitian. Mengapa? Karena tidak
memerlukan biaya untuk memberi makan hewan yang memiliki panjang sekitar 3 mm
ini dan bisa bertahan hidup di dalam botol. Lalat buah juga memiliki siklus
hidup yang pendek dan bereproduksi dengan cepat (Starr, 2012).
Kekurangan
makanan pada lalat buah mengakibatkan kuantitas telur menjadi berkurang. Imago
yang kekurangan nutrisi akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini
hanya mampu membentuk pupa berukuran kecil
dan sering gagal berkembang menjadi individu dewasa. Kualitas dari telur
dapat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan (Oktary, 2015).
Kondisi
ideal penempatan Drosophilla melanogaster
didalam medium botol yaitu ketika tersedia cukup ruang, dalam kondisi ini imago
dapat bertahan hidup selama 40 hari. Namun, ketika kondisi botol medium penuh,
akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya kematian individu
dewasa. Hewan ini juga menyukai tempat-tempat yang kekurangan cahaya ataupun
remang-remang dan gelap (Oktary, 2015).
Pemeliharaan
lalat buah dapat digunakan di berbagai medium. Medium yang digunakan adalah
ragi. Fungsi ragi ialah untuk mengembangkan adonan. Adonan mengembang
disebabkan oleh aktivitas ragi yang menghasilkan karbondioksida selama proses
fermentasi berlangsung. Gas inilah yang kemudian terperangkap dalam jaringan
gluten hingga menyebabkan roti mengembang (Safitri, 2017).
IV.
METODE
PRAKTIKUM
4.1 ALAT
DAN BAHAN
a. Lalat
buah dari berbagai umur
b. Kuas
kecil
c. Sumbat
busa
d. Selang
besar dan selang kecil
e. Kasa
f. Kertas
pupasi
g. Botol
selai
h. Pisang
i.
Tape
j.
Pernipan
k. Gula
merah
4.2 SKEMA
KERJA
a. Membuat
medium
![]() |
|||||||||||
b. Menginokulasi
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
V.
HASIL
PENGAMATAN
|
Botol
|
Hari Ke-
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
A
|
0
|
![]() |
Terdapat periental
betina yang terdiri dari 3 species betina dan 2 species jantan
|
|
1
|
![]() |
Tidak terjadi perubahan, di dalam botol
|
|
|
2
|
![]() |
Terdapat telur berwarna putih lonjong
dengan ujung anterior terdapat 2 tangkai kecil seperti sendok
|
|
|
3
|
![]() |
Telur menetas menjadi larva instar 1
|
|
|
4
|
![]() |
Larva instar 1 mengalami pergantian kulit menjadi
larva instar 2
|
|
|
5
|
![]() |
Larva instar 2 mengalami pergantian kulit ke- 2 dan
menjadi larva instar 3
|
|
|
6
|
![]() |
Larva
berhenti bergerak dan menjadi prepura putih
dengan spirakel yang membalik
|
|
|
7
|
![]() |
Prepura
berubah menjadi warna kecokelatan yang disebut pupa
|
|
|
|
|
|
|
|
Botol
|
Hari Ke-
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
B
|
0
|
![]() |
Terdapat periental
betina yang terdiri dari 3 species betina dan 2 species jantan
|
|
1
|
![]() |
Tidak terjadi perubahan, di dalam botol
|
|
|
2
|
![]() |
Terdapat telur berwarna putih lonjong
dengan ujung anterior terdapat 2 tangkai kecil seperti sendok
|
|
|
3
|
![]() |
Telur menetas menjadi larva instar 1
|
|
|
4
|
![]() |
Larva instar 1 mengalami pergantian kulit menjadi
larva instar 2
|
|
|
5
|
![]() |
Larva instar 2 mengalami pergantian kulit ke- 2 dan
menjadi larva instar 3
|
|
|
6
|
![]() |
Larva
berhenti bergerak dan menjadi prepura putih
dengan spirakel yang membalik
|
|
|
7
|
![]() |
Prepura
berubah menjadi warna kecokelatan yang disebut pupa
|
|
Botol
|
Hari Ke-
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
C
|
0
|
![]() |
Terdapat periental
betina yang terdiri dari 3 species betina dan 2 species jantan
|
|
1
|
![]() |
Tidak terjadi perubahan, di dalam botol
|
|
|
2
|
![]() |
Terdapat telur berwarna putih lonjong
dengan ujung anterior terdapat 2 tangkai kecil seperti sendok
|
|
|
3
|
![]() |
Telur menetas menjadi larva instar 1
|
|
|
4
|
![]() |
Larva instar 1 mengalami pergantian kulit menjadi
larva instar 2
|
|
|
5
|
![]() |
Larva instar 2 mengalami pergantian kulit ke- 2 dan
menjadi larva instar 3
|
|
|
6
|
![]() |
Larva
berhenti bergerak dan menjadi prepura putih
dengan spirakel yang membalik
|
|
|
7
|
![]() |
Prepura
berubah menjadi warna kecokelatan yang disebut pupa
|
|
Botol
|
Hari Ke-
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
D
|
0
|
![]() |
Terdapat periental
betina yang terdiri dari 3 species betina dan 2 species jantan
|
|
1
|
![]() |
Tidak terjadi perubahan, di dalam botol
|
|
|
2
|
![]() |
Terdapat telur berwarna putih lonjong
dengan ujung anterior terdapat 2 tangkai kecil seperti sendok
|
|
|
3
|
![]() |
Telur menetas menjadi larva instar 1
|
|
|
4
|
![]() |
Larva instar 1 mengalami pergantian kulit menjadi
larva instar 2
|
|
|
5
|
![]() |
Larva instar 2 mengalami pergantian kulit ke- 2 dan
menjadi larva instar 3
|
|
|
6
|
![]() |
Larva
berhenti bergerak dan menjadi prepura putih
dengan spirakel yang membalik
|
|
|
7
|
![]() |
Prepura
berubah menjadi warna kecokelatan yang disebut pupa
|
|
Botol
|
Hari Ke-
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
E
|
0
|
![]() |
Terdapat periental
betina yang terdiri dari 3 species betina dan 2 species jantan
|
|
1
|
![]() |
Tidak terjadi perubahan, di dalam botol
|
|
|
2
|
![]() |
Terdapat telur berwarna putih lonjong
dengan ujung anterior terdapat 2 tangkai kecil seperti sendok
|
|
|
3
|
![]() |
Telur menetas menjadi larva instar 1
|
|
|
4
|
![]() |
Larva instar 1 mengalami pergantian kulit menjadi
larva instar 2
|
|
|
5
|
![]() |
Larva instar 2 mengalami pergantian kulit ke- 2 dan
menjadi larva instar 3
|
|
|
6
|
![]() |
Larva
berhenti bergerak dan menjadi prepura putih
dengan spirakel yang membalik
|
|
|
7
|
![]() |
Prepura
berubah menjadi warna kecokelatan yang disebut pupa
|
VI.
PEMBAHASAN
Lalat
buah (Drosophilla melanogaster)
merupakan hewan dari kelas insecta yang memiliki siklus hidup lebih cepat dari
hewan lain, bisa kita sebut sebagai hewan berumur pendek bahkan dapat menyelesaikan
siklus hidupnya dalam 12 hari. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan sampel
dalam penelitian yang membutuhkan waktu sedikit, misalnya penelitian secara
biologis dalam genetika. Bentuk yang unik dan kecil menambah ketertarikan
peneliti untuk mengamati fase-fase kehidupan lalat buah..
Selain
itu lalat buah sering kita temukan karena jumlahnya memang melimpah di alam.
Keturunan yang diperoleh ketika bereproduksi juga sangat besar.
Persilangan
pada lalat buah melibatkan beberapa species beda kelamin dalam setiap botol. Maka
dari itu, ketika ingin memasukkan lalat ke dalam botol, kita harus menentukan
jenis kelamin si lalat dengan melihat ciri morfologinya, misal melihat ukuran, perbedaan
warna pada bagian dorsal dan ventralnya, bentuk tubuh serta karakteristik lain
yang mendukung. Berikut adalah penjelasan sedikit mengenai perbedaan lalat buah
jantan dan betina yang terlihat oleh mata.
Lalat
jantan memiliki ciri ukuran tubuh yang lebih kecil, membawa warna tubuh berupa
pigmen hitam yang dominan, ditemukan adanya sisir rambut (sex comb), bagian ujung (caudal)
abdomen lalat membulat dan tumpul. Berbanding terbalik dengan bagian abdomennya
yang sempit dan berbentuk silindris.
Karakteristik
morfologi lalat betina antara lain tubuhnya lebih besar dibanding yang jantan,
abdomen membesar membentuk oval, ujung (caudal)
abdomen sempit berbentuk silindris, warna tubuh lebih cerah dibanding yang
jantan, dan tidak ditemukan adanya sisir kelamin (sex comb).
Dari
kedua paragraf diatas kita dapat membedakan mana lalat jantan mana lalat betina
tanpa menggunakan mikroskop dan kacamata pembesar, cukup dengan mata kita
sendiri.
Proses
pertumbuhan lalat berlangsung sekitar 8-15 hari tergantung dari perlakuan atau
faktor yang diberikan seperti suhu,
intensitas cahaya, kelembaban, kualitas makanan, angin, dan masih banyak lagi.
Pertumbuhan
lalat bermula dari telur sebagai anak dari parietal 1. Ketika telur menetas,
keluar larva instar 1 dengan ukuran kecil berwarna putih yang menempel di kertas pupasi dan media.
Larva instar 1 akan berkembang lagi menjadi larva instar 2 setelah mengalami
pergantian kulit. Larva instar 2 memiliki ciri yaitu adanya spirakel di bagian
anterior yang berupa tonjolan seperti sendok atau catut. Larva instar 2 akan
meregenerasi kulit kembali menjadi larva instar 3 yang juga memiliki spirakel disertai tonjolan
pada bagian anterior.
Larva
instar 3 akan mengalami masa seperti masa dormansi yang ditandai dengan
berhenti makan kemudian keluar dari media. Larva akan berkembang lagi menjadi
prepupa putih dengan spirakel membalik. Ketika prepupa berubah warna menjadi
cokelat, maka itulah pupa.
Hewan
yang berada di dalam pupa akan bermetamorfosis dan akhirnya keluar
dalam bentuk hewan dewasa (imago). Tubuh lalat berwarna pucat, sayap
terlipat dengan abdomen berbentuk memanjang. Sejam kemudian, sayap yang tadinya
melipat akan merentang hingga bisa terbang.
Adapun
alat-alat yang digunakan dalam pengamatan antara lain kuas kecil, botol selai,
kasa, selang besar, selang kecil, gunting, kompor, sumbat busa, blender dan
beberapa alat lain yang mungkin penulis lupa.
Fungsi
dari kuas kecil adalah untuk membersihkan botol selai. Botol selai meruakan
alat yang digunakan untuk menyimpan kertas pupasi, medium, dn lalat buah. Kasa
berfungsi sebagai penyumbat agar lalat tidak masuk ke kerongkongan praktikan.
Selang besar dan selang kecil digunakan untuk menyedot lalat buah dari botol
perangkap ke botol selai. Gunting digunakan untuk memotong kertas pupasi,
sumbat busa, dan kasa. Kompor adalah alat yang digunakan untuk memanaskan bahan
medium. Sumbat busa berfungsi sebagai alat penutup botol. Blender merupakan
alat pencampur semua bahan untuk medium.
Setiap
ada alat, pastinya ada bahan yang digunakan untuk pengamatan ini antara lain
lalat buah (Drosophilla melanogaster)
beda jenis kelamin, kertas pupasi, botol selai, pisang, tape, pernipan, dan
gula merah.
Lalat
merupakan hewan yang dijadikan objek pengamatan, baik dilihat siklus hidup
maupun cara pemeliharaannya. Kertas pupasi berfungsi sebagai tempat melekatnya
larva instar maupun pupa. Pisang merupakan buah dengan gizi tinggi dan rasa
yang enak tentunya disukai oleh lalat buah. Gula merah berfungsi sebagai
pemanis dan hal yang bersifat manis disukai oleh lalat. Fungsi dari pemberian
pisang dan tape dengan perbandingan 6:1 sering digunakan oleh beberapa peneliti
karena dianggap paling cocok untuk pemeliharaan lalat buah.
Bahan
terpenting lain yaitu ragi atau pernipan. Menurut Safitri ragi atau fermifan
berfungsi untuk menyediakan ruang udara pada medum. Ruang udara ini berasal
dari hasil fermentasi berupa CO2.
Setiap
kelompok menggunakan 5 botol yang masing-masing berisi 5-7 lalat berbeda
kelamin. Hasil pengamatan kelompok kami terhadap perkembangan larva lalat
kurang lebih sama antar botol tiap harinya. Pada hari ke-0 masih belum terjadi
perubahan apa-apa. Hari ke-1 juga tidak terjadi perubahan. Pada hari ke-2 mulai
terlihat telur berbentuk lonjong berwarna putih dengan ujung anterior terdapat
dua tangkai kecil seperti sendok. Hari ke-3 telur menetas dan terlihat larva
instar 1 dengan ciri ukuran sangat kecil berwarna putih.
Pada
hari ke-4 larva instar 1 berubah menjadi larva instar 2 yang ditandai dengan
munculnya spirakel pada bagian anteriornya. Ukuran tubuhnya lebih besar dari
larva nstar 1. Berlanjut pada hari ke-5, terdapat larva instar yang ukurannya
sangat besar dan lebih panjang dari larva instar 2, berwarna putih dan berjalan kemana-mana. Ukuran sekitar 3
mm.
Pada
hari ke-6 larva berhenti bergerak dan berubah menjadi prepupa putih dengan
spirakel membalik. Ukuran lebih kecil dan lebih bulat dari larva instar 3. Pada
hari terakhir pengamatan, prepupa tadi berubah menjadi warna cokelat. Ketika
prepupa berubah warna itulah yang disebut dengan pupa. Pupa inilah yang
nantinya akan terus berkembang menjadi lalat.
Kendala
yang kami temukan selama pengamatan ialah menyimpan 5 botol selai pada tempat
yang terkena terik matahari langsung pada hari pertama. Mungkin hal ini yang
menyebabkan pada hari ke-1 tidak terjadi perubahan apa-apa pada lalat. Menurut
Safitri, juga diterangkan bahwa suhu yang melebihi 30° C dapat menyebabkan
lalat menjadi steril. Pada beberapa botol juga ditemukan lalat mati, hal ini
mungkin terjadi karena lalat terlalu lemas hidup di tempat yang begitu sempit
sehingga kekurangan oksigen.
VII.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
a. Siklus hidup lalat buah berlangsung
sekitar 8-15 hari mulai dari telur sampai imago.
b. Memelihara lalat buah sangat mudah,
cukup dengan mengatur faktor biotik dan abiotik yang pas dengan lalat buah
B.
SARAN
-
DAFTAR
PUSTAKA
Fried,
G.H. & Hademenos, G.J.2006.BIOLOGI.Jakarta: Penerbit Erlangga.
Oktary,
A.D; M. Ridwan; Armi. 2015. EKSTRAK DAUN KIRINYUH (Eupatorium odoratum) DAN LALAT BUAH (Drosophila melanogaster). Serambi
Akademika. Vol. 3(2): 335-342.
Safitri,
D. dan S. Bachtiar. 2017. PENGARUH PENAMBAHAN RAGI PADA MEDIA TERHADAP
PERKEMBANG BIAKAN Drosophila melanogaster.
JURNAL BIOLOGY SCIENCE & EDUCATION.Vol.
6 (1): 45-51.
Starr,
C., Taggart, R., dan Starr, L.2013.Biologi.Jakarta:
Salemba Teknika.
Susanto,
A.; F. Fathoni; N.I.N.N. Utami; Tohidin.2017.Fluktuasi Populasi Lalat Buah
(Bactrocera dorsalis Kompleks) pada Pertanaman Pepaya di Desa Margaluyu,
Kabupaten Garut.Jurnal Agrikultura.Vol.
28 (1): 32-38.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar