LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
“IMITASI RATIO FENOTIPE”
Oleh:
Nama : Hofidatul Maisaroh
NIM : 170210103076
Program studi : Pendidikan Biologi
Kelas/Kelompok :
B/5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I.
JUDUL
IMITASI RATIO FENOTIPE
II.
TUJUAN
2.1 Mempelajari
pola persilangan monohibrid dominan penuh
2.2 Mempelajari
pola persilangan monohibrid dominan tidak penuh
2.3 Mempelajari
pola persilangan dihibrid dominan penuh
2.4 Mempelajari
pola persilangan dihibri dominan tidak penuh
III.
DASAR
TEORI
Konsep
Mendel menggunakan kacang ercis sebagai media persilangan. Persilangan yang
dilakukan yaitu persilangan monohibrid dan persilangan dihibrid. Persilangan
monohibrid ini membawa satu sifat beda, sedangkan persilangan dihibrid membawa
dua sifat yang berbeda. Persilangan
monohibrid sering kita kenal dengan hukum Mendel I dan hukum Mendel II dikenal
sebagai persilangan dihibrid (Nur, 2014).
Sistem
penurunan sifat yang berdasarkan Hukum Mendel dapat menghasilkan sifat
keturunan yang beragam. Hal itu terjadi jika diketahui terdapat sifat antara
kedua induk (ayah atau ibu) berbeda. Termasuk peluang munculnya keberagaman
sifat fisik atau struktur tubuh (Hereditas), salah satunya dalam sistem
pewarisan warna kulit (Akbar, et al 2015).
Hukum
Mendel I (segregasi) merupakan pasangan alel yang memisah selama pembentukan
gamet pada pembelahan sel meiosis. Karena pemisahan inilah, setiap satu gamet
memiliki setengah dari kromosom induk yang mana hanya membawa satu alel dari
setiap gen. Dimana alel dapat bersifat dominan ataupun resesif (Arumingtyas,
2016).
Jika
dominan penuh, maka individu F1 akan memiliki fenotipe seperti induknya. Maksud
dominan disini ialah sifatnya lebih tinggi atau besar sehingga mengalahkan
sifat yang lain. Sifat yang lain disebut sebagai sifat resesif. Rasio fenotipe
dominan penuh 3:1 dan dominan tidak penuh 1:2:1 (Suryo, 2012).
Hukum
Mendel II (berpasangan secara bebas), terdiri dari dua hipotesis tentang
alel-alel daalam persilangan dihibrid yang pertama ialah berpasangan secara
dependen atau saling bergantung, yang kedua berpasangan secara bebas atau tidak
saling bergantung. Persilangan ini merupakan persilangan dihibrid yang berarti
persilangan antara individu heterozigot yang membawa dua sifat beda
(Arumingtyas, 2016).
Apabila
dominansi nampak penuh pada persilangan dihibrid akan menghasilkan keturunan
dengan perbandingan fenotipe 9:3:3:1. Pada persilangan tidak penuh fenotipe
yang diperoleh pada F1 adalah 1:2:1:2:4:2:1:2:1 (Suryo, 2012).
Data
yang diperoleh dari analisis ini adalah analisis Chi-square test dengan
menggunakan taraf signifikasi 5 %. Berdasarkan hasil persilangan F2 yang
menyatakan X²hitung (3,78) ≤ X²tabel 5% (3,841)
berarti nilai ini diterima atau bernilai baik. Menurut Mendel, semakin banyak
jumlah generasi yang dihitung, makin mendekati ratio kenyataan terhadap rasio
teoritis dengan suasana lingkungan dan genotipe yang berbeda (Firdauzi, 2014).
IV.
METODE
PRAKTIKUM
4.1 ALAT
DAN BAHAN
a. Kancing
genetika berwarna-warni
b. Kantong
plastik
4.2 SKEMA
KERJA
a) Perkawinan monohibrid dengan dominasi penuh
|
Menyiapkan dua buah kantong sebagai alat
reproduksi jantan dan betina
|
|
Mengisi masing-masing kantong dengan 10 kancing
dari dua warna yang berbeda (warna terang= dominan, warna gelap= resesif)
|
|
Mengacak kancing-kancing tersebut dan mengambil
sebuah kancing dari masing-masing kantong secara acak, menyatukan kedua
kancing dan menulis genotip zigot yang didapatkan kedalam table (MM= merah,
Mm= merah, mm= putih)
|
|
Menulis fenotipe individu yang didapatkan
|
|
Mengembalikan kancing kedalam kantong semula dan
jangan sampai tertukar
|
|
Mengulangi pengacakan dan pengambilan sehinga
mendapat 12 data setiap kelompok
|
|
Melakukan uji X2
|
b) Perkawinan monohibrid dengan dominasi tidak penuh
|
Mengisi masing-masing kantong dengan 10 kancing
dari dua warna yang berbeda (warna terang= dominan, warna gelap= resesif)
|
|
Mengacak kancing-kancing tersebut dan mengambil
sebuah kancing dari masing-masing kantong secara acak, menyatukan kedua
kancing dan menulis genotip zigot yang didapatkan kedalam table (MM= merah,
Mm= merah muda, mm= putih)
|
|
Menulis fenotipe individu yang didapatkan
|
|
Mengembalikan kancing kedalam kantong semula dan
jangan sampai tertukar
|
|
Menyiapkan dua buah kantong sebagai alat
reproduksi jantan dan betina
|
|
Melakukan uji X2
|
|
Mengulangi pengacakan dan pengambilan sehinga
mendapat 12 data setiap kelompok
|
c)
Perkawinan Dihibrid dengan dominasi penuh
|
Mengulangi pengacakan dan pengambilan sehinga
mendapat 16 data setiap kelompok
|
|
Melakukan uji X2
|
|
Menyiapkan dua buah kantong sebagai alat
reproduksi jantan dan betina
|
|
Mengembalikan kancing kedalam kantong semula dan
jangan sampai tertukar
|
|
Menulis fenotipe individu yang didapatkan
|
|
Mengacak kancing-kancing tersebut dan mengambil
sebuah kancing dari masing-masing kantong secara acak, menyatukan kedua
kancing dan menulis genotype zigot yang di dapatkan kedalam tabel
|
|
Mengisi masing-masing kantong 5 merah, dengan
penonjolan (Merah besar= gamet MB), 5 merah tanpa penonjolan (Merah kecil=
Mb), 5 putih dengan penonjolan (Putih besar= mB), 5 putih tanpa penonjolan
(Putih kecil= mb)
|
d)
Perkawinan
Dihibrid dengan diminasi tidak penuh
|
Menyiapkan dua buah kantong sebagai alat
reproduksi jantan dan betina
|
|
Mengisi masing-masing kantong 5 merah, dengan
penonjolan (Merah besar= gamet MB), 5 merah tanpa penonjolan (Merah kecil=
Mb), 5 putih dengan penonjolan (Putih besar= mB), 5 putih tanpa penonjolan
(Putih kecil= mb)
|
|
Mengulangi pengacakan dan pengambilan sehinga
mendapat 16 data setiap kelompok
|
|
Melakukan uji X2
|
|
Mengembalikan kancing kedalam kantong semula dan
jangan sampai tertukar
|
|
Menulis fenotipe individu yang didapatkan
|
|
Mengacak kancing-kancing tersebut dan mengambil
sebuah kancing dari masing-masing kantong secara acak, menyatukan kedua
kancing dan menulis genotype zigot yang di dapatkan kedalam tabel
|
V.
HASIL
PENGAMATAN
5.1 Pola persilangan Monohibrid
|
Kelompok
|
Dominan penuh
|
Dominan tidak penuh
|
|||
|
Hitam
|
Putih
|
Hitam
|
Abu-abu
|
Putih
|
|
|
1
|
11
|
1
|
4
|
5
|
3
|
|
2
|
10
|
2
|
2
|
5
|
5
|
|
3
|
8
|
4
|
2
|
7
|
3
|
|
4
|
11
|
1
|
1
|
5
|
6
|
|
5
|
8
|
4
|
1
|
5
|
0
|
|
6
|
6
|
3
|
2
|
7
|
3
|
5.2
Pola pesilangan Dihibrid
|
Kel.
|
Dominan Penuh
|
Dominan tidak penuh
|
|||||||||||
|
HB
|
HK
|
PB
|
PK
|
HB
|
HS
|
HK
|
AB
|
AS
|
AK
|
PB
|
PS
|
PK
|
|
|
1
|
5
|
4
|
5
|
2
|
0
|
1
|
0
|
5
|
6
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
2
|
12
|
1
|
1
|
2
|
1
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
1
|
1
|
|
3
|
9
|
4
|
3
|
0
|
1
|
2
|
0
|
1
|
6
|
2
|
0
|
4
|
0
|
|
4
|
13
|
1
|
2
|
0
|
0
|
1
|
1
|
5
|
3
|
2
|
0
|
4
|
0
|
|
5
|
6
|
6
|
4
|
0
|
1
|
4
|
0
|
2
|
2
|
2
|
3
|
0
|
2
|
|
6
|
10
|
1
|
5
|
0
|
3
|
0
|
0
|
2
|
6
|
2
|
3
|
0
|
0
|
5.3 Analisis X2 (Probabilitas)
|
Kel.
|
Pola
Persilangan
|
|||
|
Monohibrid
dominan penuh
|
Monohibrid
dominan tidak penuh
|
Dihibrid
dominan penuh
|
Dihibrid
dominan tidak penuh
|
|
|
1
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<90%
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<30%
|
|
2
|
5%<X2<70%
|
5%<X2<70%
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<90%
|
|
3
|
5%<X2<70%
|
5%<X2<90%
|
5%<X2<90%
|
5%<X2<70%
|
|
4
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<90%
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<30%
|
|
5
|
5%<X2<70%
|
5%<X2<30%
|
5%<X2<10%
|
5%<X2<30%
|
|
6
|
5%<X2<70%
|
5%<X2<90%
|
5%<X2<30%
|
X = 5%
|
VI.
PEMBAHASAN
Persilangan monohibrid merupakan pola perkawinan
antara dua individu berbeda jenis kelamin yang membawa satu sifat beda. Ciri
dari individu F1 hasil persilangan monohibrid yaitu semua individu
seragam, memiliki fenotipe seperti
induknya yang dominan (jika dominansi penuh), gamet hanya memiliki satu
alel pada individu F1 heterozigotik,
serta menghasilkan perbandingan
rasio fenotipe 3:1 dan genotipe 1:2:1
pada dominansi penuh. Adapun persilangan
dihibrid yang berarti pola persilangan antara dua individu berbeda kelamin yang
membawa dua sifat beda. Rasio fenotipe
F1 yaitu 9:3:3:1dan genotipe F1 yaitu 1:2:1::2:4:2:1:2:1.
Hukum mendel I atau yang sering kita kenal dengan
hukum pemisahan. Maksud dari hukum pemisahan ini ialah pemisahan alel pada
individu F1 heterozigot saat terjadi pembentukan gamet, sehingga gamet hanya
memiliki satu alel. Adapun hukum Mendel II atau hukum pengelompokan bebas.
Hukum ini menyatakan bahwa pada pembentukan gamet terjadi pemisahangen-gen
sealel secara bebasketika berlangsung pembelahan meiosis.
Sifat dominan
merupakan sifat yang diturunkan pada individu F1 yang mana sifatnya lebih
tinggi, besar ataupun mengalahkan sifat lainnya. Sifat yang dikalahkan inilah
yang disebut sifat resesif. Adapun gen yang bersifat dominan ditandai dengan
huruf besar, sedangkan yang resesif
memakai huruf kecil.
Pola persilangan dominansi penuh merupakan pola
persilangan dua individu berbeda yang tidak memunculkan sifat baru pada individu F1. Sedangkan pola
persilangan dominansi tidak penuh akan menghasilkan individu dengan sifat baru
yang intermediet. Hal ini karena pada dominansi penuh tidak ditemukan sifat
yang intermediet (sifat gabungan), dimana gen-gennya membawa sifat dominan.
Ketika suatu gen bersifat dominan, maka sifat lain dikalahkan tanpa adanya
intermediet. Rasio fenotipe pada monohibrid penuh ialah 3:1 dan 1:2:1 pada
monohibrit tidak penuh. Pada persilangan dihibrid penuh 9:3:3:1 dan todak penuh
1:2:1:2:4:2:1:2:1.
Derajat kebebasan memiliki nilai yang sama dengan
jumlah fenotipe dikurangi dengan satu. Misal kita dihadapkan dengan suatu
masalah dan disuruh memilih 1 orang dari 10, kita hanya memiliki kebebasan
sebanyak 9. Yang berarti tingkat kebebasan kita untuk memilih selalu kurang
dari 1.
Bahan yang digunakan berupa kancing genetika
berwarna warni dan kantung plastik berwarna hitam. Fungsi kancing genetika
berwarna-warni, kancing berpasangan
menggamarkan diploid, gamet yang dibentuk memiliki kromosom haploid yang
diwakili oleh kancing yang tidak berpasangan sedangkan pada percobaan dihibrid
belahan kancing dengan tonjolan mewakili gen dominan. Adapun kantong hitam
berfungsi sebagai gambaran terjadinya spermtogenesis dan oogenesis.
Pengambilan acak pada percobaan bertujuan untuk
menghasilkan individu F1 yang kombinasi. Misalnya, pemindahan gen pada
pembentukan gamet, proses fertilisasi serta berkumpulnya gen didalam zigot.
Jika dikaitkan dengan hukum mendel maka perlakuan acak ini mengajarkan kita
mengenai beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada percobaan.
Hasil dari percobaan tidak selalu bernilai benar
atau sesuai dengan hukum Mendel. Bisa saja, percobaan yang kita lakukan
menyimpang jauh dari teori. Oleh karena itu muncullah tes chi-square test yang
memuat evaluasi kebenaran hasil percobaan kita. Jadi, tujuan adanya tes ini untuk
menentukan seberapa besar penyimpangan yang kita lakukan pada percobaan.
Penyimpanagn disini berarti penyimpangan yang tidak sesuai dengan hukum mendel.
Tes chi square test dirumuskan dengan jumlah dikalikan deviasi/penyimpangan(d)
yang sudah dikuadratkan lalu dibagi hasil yang diharapkan (n).
Pada persilangan monohibrid dominan penuh perlu
diadakan koreksi Yates karena nilai kemungkinan suatu percobaan kurang dari
0,05 yang dianggap sebagai batas signifikan, maka derajat penyimpangan cukup.
Terkait dengan hal itu, data hasil percobaan testcross tidak baik dan tidak
bisa dipercaya. Muncullah hipotesa bahwa ada faktor lain di luar faktor yang
memungkinkan diditu. Itulah maksud dibentuknya koreksi Yates. Sehingga, pada
persilangan monohibrid l A – H l dikurangi 0,5 agar mencapai batas signifikan.
Berikut merupakan hasil percobaan kami.
Tabel data hasil pengamatan persilangan monohibrid
dominan penuh setelah di analisis menggunakan koreksi chi-square test,
berturut-turut dari kelompok 1 sampai kelompok 6 mendapatkan nilai kebenaran 30
%, 70 %, 70 %, 30 %, 70 %, dan 70 %.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa data hasil percobaan semua
kelompok baik karena nilai X2 hitung > X2 tabel.
Tabel data hasil pengamatan persilangan monohibrid dominan tidak penuh
setelah di analisis menggunakan koreksi chi-square test, berturut-turut dari
kelompok 1 sampai kelompok 6 mendapatkan nilai kebenaran 90 %, 70 %, 90 %, 90
%, 30 %, dan 90 %. Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa data hasil percobaan semua kelompok baik
karena nilai X2 hitung > X2
tabel.
Tabel data hasil pengamatan persilangan dihibrid
dominan penuh setelah di analisis menggunakan koreksi chi-square test,
berturut-turut dari kelompok 1 sampai kelompok 6 mendapatkan nilai kebenaran 30
%, 30 %, 90 %, 90 %, 30 %, dan 30 %.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa data hasil percobaan semua
kelompok baik karena nilai X2 hitung > X2 tabel.
Tabel data hasil pengamatan persilangan dihibrid
dominan tidak penuh setelah di analisis menggunakan koreksi chi-square test,
berturut-turut dari kelompok 1 sampai kelompok 6 mendapatkan nilai kebenaran 30
%, 90 %, 70 %, 30 %, 30 %, dan 5 %.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa data hasil percobaan semua
kelompok baik karena nilai X2 hitung > X2 tabel, kecuali data kelompok 6
karena X2 hitung < 0,05.
Pada data hasil pengamatan kami hanya menemukan satu
data yang tidak baik dari kelompok 6. Dikatakan tidak baik karena nilai X2
hitung < 0,05.
VII.
PENUTUP
a. Kesimpulan
a) Rasio
fenotipe persilangan monohibrid dominan penuh ialah 3:1
b) Rasio
fenotipe persilangan monohibrid dominan tidak penuh yaitu 1:2:1
c) Rasio
fenotipe persilangan dihibrid dominan penuh yaitu 9:3:3:1
d) Rasio
fenotipe persilangan dihibrid dominan tidak penuh yaitu 1:2:1:2:4:2:1:2:1
b. Saran
-
DAFTAR
PUSTAKA
Arumingtyas,
E. L.2016.GENETIKA MENDEL.Malang: UB
Press.
Firdauzi, N.
F.2014. RASIO PERBANDINGAN F1 DAN F2 PADA PERSILANGAN STARIN N x b, DAN STRAIN
N x tx SERTA RESIPROKNYA. JURNAL BIOLOGY
AND EDUCATION. Vol. 3(2): 197-204.
Akbar, R. T.; S.
Hardhienata; A. Maesya.2015. IMPLEMENTASI SISTEM HEREDITAS MENGGUNAKAN METODE
PERSILANGAN HUKUM MENDEL UNTUK IDENTIFIKASI PERSILANGAN WARNA KULIT. Jurnal x. Vol. 0(0):1-13.
Nur,
M.2014.PEMANFAATAN MODENG BAGE (BIJI ASAM) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA
MATERI MONOHIBRID UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA XII A 1 SMA NEGERI
1 LAPE.Jurnal Ilmiah Biologi
“Bioscientist”. Vol. 4(2):67-75.
Suryo.2012.GENETIKA untuk Strata 1.Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar