LAPORAN
PRAKTIKUM
GENETIKA
“POLIPLOIDI PADA PTERIDOPHYTA”
Oleh
:
Hofidatul
Maisaroh (170210103076)
Kelas/Kelompok:
B/05
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN
PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JEMBER
2018
I.
JUDUL
POLIPLOIDI PADA
PTERIDOPHYTA
II. TUJUAN
Untuk mengetahui tipe
ploidi pada pteridophyta dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi tipe
ploidi tersebut.
III. DASAR TEORI
Poliploidi
merupakan peristiwa penggandaan kromosom sehingga memiliki dua genom atau sel
dalam sel tubuhnya. Terbentuknya individu poliploidi dapat terjadi karena
adanya penghalang terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel
sehingga menyebabkan sel tidak dapat membelah (As`adah, 2016).
Poliploidi
pada tanaman tingkat tinggi dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah kromosom.
Kromosom dapat diduplikasi melalui mutasi. Umumnya jumlah kromosom pada tanaman ialah
diploid, namun ada juga yang haploid, triploid, maupun tetraploid. Poliploidi
memiliki peranan penting dalam menghasilkan keragaman genetik dan fenotipe
serta evolusi tanaman (Saraswati, 2017).
Berdasarkan
sumber asal kromosom, poliploidi dapat dibedakan menjadi dua yaitu autopoliploidi
dan allopoliploidi. Organisme yang menerima semua kromosom dari species yang
sama disebut autopoliploidi. Organisme yang menerima kromosom dari species atau
genus yang berbeda dinamakan allopoliploidi. (Aristya, 2015).
Poliploidi
dapat dilakukan dengan bebeapa cara khususnya pada tetraploidi. Organisme
tetraploidi dapat dihasilkan melalui mekanisme yang paling sederhana, yaitu
kegagalan memisahnya kromosom pada individu diploid selama mitosis sehingga
terjadi penggandaan jumlah genom dari 2n menjadi 4n dan seterusnya (Susanto, 2011).
Selain
itu, mutasi pada poliploidi dapat disebabkan oleh mutagen kimia yang menghambat
pembentukan benang-benang spindel sehingga menghambat pertumbuhan bahkan
menyebabkan kematian. Pemberian kolkisin misal, pemberian zat ini dapat
menyebabkan penurunan presentase jumlah tanaman tumbuh (Fadilla, 2018).
IV. METODE
4.1 Alat dan Bahan
a. Alat
·
Botol
·
Kaca benda
·
Kaca penutup
·
Saringan
·
Pinset, silet
·
Water bath
·
Vial pipet tetes
·
Mikroskop dengan perbesaran 100 X 10
·
Hand counter
·
Polybag altimeter
·
Stereofoam
b. Bahan
·
Larutan FAA yang berfungsi untuk
mempertahankan kondisi sel sehingga sel tidak melakukan fase pembelahan
selanjutnya.
·
HCl 1N yang berfungsi untuk melisiskan
dinding sel tudung akar.
·
Acetocarmin yang berfungsi untuk
memberikan pewarnaan sehingga kromosom dapat diamati.
·
Kertas hisap digunakan untuk menghisap
larutan HCl dari preparat sebelum ditetesi Acetocarmin.
·
Balsem kanada digunakan untuk
mengawetkan preparat.
·
Tudung akar; P. vittata, P. biaurita, P. ensiformis.
4.2 Cara Kerja (skematis)
|
a. Mencari P.vittata, P.biaurita,
P.ensiformis pada 3 daerah dengan 3 ketinggian yang berbeda
(dataran rendah, sedang dan tinggi).
|
|
b. Mengambil potongan tudung akar dari
botol ampul dengan pinset dan mencuci dengan air sebanyak 8x
|
|
c. Memasukkan tudung akar ke dalam botol
ampul yang terisi dengan HCl 1 N
|
|
d. Memotong tudung akar sepanjang 1 cm.
dan memasukkan potongan tudung akar ke dalam ampul yang berisi larutan FAA
|
|
e. Menentukan 3 lokasi daerah dengan 3
ketinggian yang berbeda
|
|
f. Menset waterbat dengan suhu 60ᵒC,
menyalakan waterbat dan menunggu samapi lampu merah yang menyala mati
|
|
g. Memasang botol ampul pada stereofoam
yang telah dilubangi dan memasukkan ke dalam waterbat yang diisi air
secukupnya
|
|
h. Mendiamkan selama 15 menit, kemudian
mengeluarkan botol ampul dan potongan akar dikeluarkan menggunakan pinset
dan meletakkan pada kaca benda
|
|
i. Memotong tudung akar dengan silet,
meneteskan acetocarmin, menutup dengan kaca benda lalu menekan kaca penutup
dengan ibu jari
|
|
j. Mengamati preparat di mikroskop dengan
menggunakan perbesaran 1000x
|
|
k. Menghitung jumlah kromosom yang
terlihat pada sel yang mengalami metaphase atau anaphase dengan menggunakan
hand counter
|
|
l. Melakukan pengumpulan data dan
melakukan analisis data untuk mengetahui ploidi padamasing-masing tumbuhan
untuk setiap ketinggian dan melakukan analisis secara statistic untuk
mengetahui perbedaannya
|
|
m. Perhitungan dilakukan dengan mengamati
5 sel untuk setiap preparat dilakukan sebanyak 3x
|
V. HASIL PENGAMATAN
|
No.
|
Jenis
Pteris
|
Daratan
|
Jumlah
Kromosom Sel ke-
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||
|
1.
|
P. vittata
|
Tinggi
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P.
biaurita
|
Rendah
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
2.
|
P. vittata
|
Sedang
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P. biaurita
|
Tinggi
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
3.
|
P. vittata
|
Rendah
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P. biaurita
|
Sedang
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
4.
|
P. vittata
|
Tinggi
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P. ensiformis
|
Rendah
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
5.
|
P. vittata
|
Sedang
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P. ensiformis
|
Tinggi
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
6.
|
P. vittata
|
Rendah
|
0
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
P. ensiformis
|
Sedang
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Keterangan Tambahan:
|
No.
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1.
|
|
Kel.
1 P. biaurita, dataran rendah.
Jumlah
kromosom 4, fase profase.
|
|
2.
|
|
Kel.
2 P. biaurita, dataran tinggi.
Jumlah
kromosom 2, fase telofase 2.
|
|
3.
|
|
Kel.
5 P. ensiformis, dataran tinggi.
Jumlah
kromosom tidak terlihat, sel mengalami pembelahan telofase.
|
|
4.
|
|
Kel
3 P. vittata, dataran rendah.
Jumlah
kromosom 1, fase telofase.
|
|
5.
|
|
Kel
6 P. ensiformis, dataran rendah.
Jumlah
kromosom 4, fase metafase 3, telofase 1.
|
VI. PEMBAHASAN
Perubahan jumlah kromosom
dibedakan menjadi dua yaitu euploidi dan aneuploidi. Euploidi adalah keadaan
dimana jumlah kromosom yang dimiliki oleh suatu mahluk hidup merupakan
kelipatan dari kromosom dasarnya (haploidnya). Euploid lebih sering ditemukan
pada tumbuhan karena umumnya tumbuhan tidak mengenal adanya kromosom kelamin.
Euploidi ini dibedakan menjadi 3 yaitu monoploid, diloid, dan poliploidi.
Individu poliploidi merupakan
individu yang memiliki lebih dari dua genom dalam sel tubuhnya, misalnya triploid
(3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n) dan seterusnya. Individu dalam satu
genus maupun satu species seringkali memiiki jumlah kromosom yang berbeda.
Dengan adanya perbedaan jumlah kromosom dalam satu species dapat meningkatkan
diversity dalam ekosistem.
Berdasarkan sumber asal
kromosom, poliploidi dapat dibedakan menjadi dua yaitu autopoliploid dan
allopoliploid. Autopoliploid merupakan organisme yang menerima semua kromosom
dari species yang sama. Sedangkan allopoliploid berarti organisme yang menerima
kromosom dari species atau genus yang berbeda.
Mekanisme terjadinya poliploidi
ialah ketika suatu kromosom mengalami penggandaan secara tidak beraturan, sel
reproduksi mengalami reduksi secara tidak beraturan maupun hal lain menyebabkan
kromosom gagal membelah atau berpisah khususnya pada proses anafase. Kromosom
yang gagal membelah atau tidak memisah menyebabkan jumlah kromosom ganda (bisa
dua kali jumlah kromosom normal). Terjadilah poliploidi.
Faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya poliploidi antara lain,
penyimpangan pada meiosis, penggunaan bahan kimia (misalnya penggunaan
kolkisin), sel somatik mengalami penggandaan secara tidak beraturan, serta sel reproduksi yang mengalami reduksi
tidak beraturan.
Keuntungan dari poliploidi pada
tanaman secara struktur anatomis mempunyai inti sel lebih besar, berkas
pembuluh erdiameter lebih besar, ukuran stomata lebh besar dan tanaman lebih
tahan terhadap perubahan lingkungan. Misalnya tahan terhadap serangan patogen,
kekeringan, serta hasil produksinya lebih tinggi. Jika dilihat dari struktur
morfologi, tanaman poliploidi memiliki ukuran bagian tanaman seperti akar,
batang, daun, bunga, dan buah yang lebih besar. Sel-sel juga lebih besar dan
tampak jelas pada epidermis.
Keuntungan yang lebih umum
ialah, dengan adanya poliploidi keragaman mahluk hidup akan semakin meningkat.
Adapun kerugian poliploidi
khususnya pada tanaman ialah terjadinya kemandulan atau kesterilan misal pada
semangka triploid yang tidak memiliki biji normal atau terdegenerasi. Pada
hewan vertebrata dapat menyebabkan kematian pralahir.
Poliploidi umumnya terjadi pada
tumbuhan, khususnya pada tumbuhan tingkat tinggi. Oleh karena itu, praktikum
kali ini menggunakan pteridophyta dari 3 tempat yang berbeda yaitu dataran tinggi,
sedang, dan rendah. Alasan yang mendasar ialah poliploidi salah satunya
disebabkan oleh faktor lingkungan, misal pengaruh suhu terhadap jumlah kromosom. Daerah dataran
tinggi dengan suhu yang rendah, tumbuhan paku cenderung memiliki ploidi yang
besar biasanya bersifat tetraploid. Sedangkan pada dataran rendah cenderung
bersifat diploid.
Hasil pengamatan praktikum kali
ini ialah sebagai berikut:
Kelompok 1 mengamati P.vittata dataran tinggi dimana tidak
ditemukan kromosom selnya dan P.biaurita dataran
rendah dengan jumlah 4 kromosom pada fase profase.
Kelompok 2 mengamati P.vittata dataran sedang dimana tidak
ditemukan kromosom selnya dan P.biaurita dataran
tinggi dengan jumlah 2 kromosom pada fase telofase 2.
Kelompok 3 mengamati P.vittata dataran rendah dengan jumlah 1
kromosom pada fase telofase dan P.biaurita
dataran sedang dimana tidak ditemukan kromosom selnya.
Kelompok 4 mengamati P.vittata dataran tinggi dimana tidak
ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis
dataran rendah juga tidak ditemukan kromosom selnya.
Kelompok 5 mengamati P.vittata dataran sedang dimana tidak
ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis
dataran tinggi yang juga tidak ditemukan kromosomnya. Hal ini disebabkan
karena sel mengalami pembelahan telofase.
Kelompok
6 mengamati P.vittata dataran rendah
dimana tidak ditemukan kromosom selnya dan P.ensiformis dataran sedang dengan 4 kromosom, masing-masing terdapat
3 kromosom fase metafase dan 1 pada fase telofase.
Kegagalan pada praktikum ini
bisa jadi disebabkan oleh praktikan yang terlalu lambat untuk memberi larutan
FAA sehingga sel kromosom membelah pada proses selanjutnya sehingga kromosomnya
tak terlihat. Mungkin juga disebabkan oleh pemberian HCl yang terlalu lama
sehingga sel menjadi rusak dan kromosom tak terlihat.
Dari ketiga pteris yang kita
amati struktur anatominya, kita belum bisa menentukan pteris mana yang
cenderung memiliki poliploidi yang paling besar, sedang maupun rendah karena
faktor human error seperti yang
dijelaskan diatas. Menurut Setyowati, pteris yang memiliki ploidi yang besar
ialah pteris yang berada di dataran tinggi dimana suhunya cenderung rendah
sehingga tipe sitologi yang ditemukan tetraploid. Sedangkan, di dataran rendah
dengan suhu yang tinggi cenderung bersifat diploid.
VII.
PENUTUP
Tipe
ploidi pterydophyta pada dataran tinggi cenderung bersifat tetraploid
berdasarkan rendahnya suhu di daerah tersebut. Sedangkan pada dataran rendah,
tipe ploidi yang dimiliki pteris cenderung bersifat diploid. Adapun faktor yang
menyebabkan poliploidi antara lain karena pemberian mutagen kimia, penggandaan
somatik, sel reproduksi yang mengalami reduksi, maupun karena faktor
lingkungan.
DAFTAR
PUSTAKA
Aristya, G. R., Daryono, B. S.,
Handayani, N. S. N., Arisuryanti, T. 2015. KARAKTERISASI
KROMOSOM TUMBUHAN DAN HEWAN. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
As`adah, M., T. Rahayu, A.
Hayati. 2016. Metode Pemberian Kolkisin Terhadap Respon Morfologis Tanaman
Zaitun (Olea Europaeae L.). Jurnal Ilmiah Biosaintropis. Vol. 2(1):
46-52.
Fadilla, Z. N. &
Respatijarti. 2018. INDUKSI POLIPLOIDI PADA BAWANG PUTIH (Allium sativum L.)
DENGAN PEMBERIAN KOLKISIN. Jurnal
Produksi Tanaman. Vol. 6(5): 783-790.
Saraswati, D. R., T. Rahayu, A.
Hayati. 2017. Kajian Pemberian Kolkisin dengan Metode Tetes Terhadap Profil
Poliploidi Tanaman Zaitun (Olea Europaeae
L.). Jurnal Ilmiah Biosaintropis.
Vol. 2(2): 24-29.
Susanto, A. H. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kalau butuh sesuatu/ gambar silahkan kirim email melalui link dibawah. Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar